
~Setelah merasa malu gagal menangkap Rasulullah saw setelah mengepung rumah Baginda, mereka menyusul rasulullah saw & Abu Bakr…& menawarkan upah lumayan utk sesiapa yang berjaya membunuh Rasulullah iaitu 100 ekor unta betina yang hampir beranak.”
~Suraqah telah menerimanya bersama perencanaan sendiri utk membolot sepenuhnya tawaran tersebut…seorang penunggang kuda yg handal. Tidak ada jalan yg tak diketahuinya. Dia mengenakan baju besi & menyandang pedang Kemudian ia memacu kudanya sekencang-kencangnya.
~Didalam perjalanan…agak aneh kerana dia terjatuh dr kuda bbrp kali & sewaktu setelah menemui Rasulullah, beliau mencapai busur utk memanah namun tiba2 tangannya menjadi kaku. Kaki kudanya terbenam pasir. Debu2 berterbangan di sekitarnya, membuat matanya kelilipan dan tak dapat melihat. Puas dicobanya tp tak berjaya . Dalam ketidak berdayaah itu dia menjerit kpd Rasulullah “Do’alah kpd Tuhanmu supaya dilepaskan kaki kudaku. Aku berjanji tidak akan mengganggu kalian lg!”
~Rasulullah menoleh, tersenyum, dan berdo’a. Sungguh menakjubkan, kaki kuda Suraqah terbebas dari jepitan pasir. Suraqah merasa heran dan kagum. Namun rasa tamak sudah menguasai dirinya. Melupakan janjinya, secara tiba-tiba ia maju menerjang Rasulullah. Malang baginya, kaki kudanya terperosok lagi, bahkan lebih parah dari semula. Rasa takut menggentarkan hati Suraqah. Ia segera memohon belas kasihan kepada Rasulullah. “Ambillah perbekalanku, harta, dan senjataku. Aku berjanji, demi Allah, tidak akan mengganggu kalian lagi,” ucap Suraqah.
“Kami tidak butuh hartamu. Jika kamu menyuruh kembali setiap orang yang hendak mengejar kami, itu sudah cukup bagi kami,” jawab Rasulullah saw. Rasulullah lantas berdo’a, dan bebaslah Suraqah dan kudanya.
“Demi Tuhan, saya tidak akan mengganggu tuan-tuan lagi. Aku akan menyuruh kembali setiap orang yang berusaha melacak kalian sesudahku nanti,” janji Suraqah seraya beranjak kembali.
“Apa yang engkau kehendaki dari kami?” tanya Rasulullah.
“Demi Allah, wahai Muhammad, saya yakin agama yang engkau bawa akan menang dan kekuasaan engkau akan tinggi. Berjanjilah padaku, apabila aku nanti datang menemuimu, sudilah engkau bermurah hati padaku.”
“Hai Suraqah, bagaimana jika pada suatu waktu engkau memakai gelang kebesaran Kisra?” tanya Rasulullah.
“Gelang kebesaran Kisra bin Hurmuz?” cetus Suraqah kaget.
“Ya, gelang kebesaran Kisra bin Hurmuz!”
“Tuliskanlah itu untuk saya.”
Rasulullah menyuruh Abu Bakar menulis pada sepotong tulang, lalu beliau memberikan tulang itu kepada Suraqah.
~Setelah yakin Rasulullah dpt melanjutkan kembali perjalanannya dgn aman, Suraqah kembali pulang. Di perjalanan dia terserempak dgn mereka yg mengejar Rasulullah. “Kembalilah kalian semuanya! Tlh kuperiksa seluruh tempat & jalan yg mungkin dilaluinya. Namun aku tidak menemukannya & kalian tidak sehebatku dlm menjejak!”
~Dia merahasiakan pertemuannya dgn Rasulullah. Setelah ia yakin benar Rasulullah telah tiba di Madinah, barulah ia membuka rahasia itu. Mendengar cerita Suraqah, Abu Jahal marah & berteriak, “Pengecut! Tak tahu malu! Engkau benar bodoh!”
~”Hai Abul Hakam! Demi Allah, kalaulah engkau mengalami peristiwa yg ku alami ketika kaki kudaku amblas ke dlm pasir, engkau tak akan ragu sedikit pun, bahwa Muhammad itu benar-benar utusan Allah. Nah, siapa yg sanggup menentangnya, silakan!” sahut Suraqah.
~10 tahun kemudian, takkala Rasulullah berhasil menaklukki Mekah…Saat itulah, para pembesar Quraisy yg selama ini memusuhi baginda datang merayu untuk dimaafkan & tiada seorang pun yg tidak dimaafkan. Diwaktu itu Suraqah pun datang…membawa sepotong tulang bertuliskan perjanjian Rasulullah dahulu. Suraqah berhasil menemui Rasulullah di Ju’ranah, di perkemahan pasukan berkuda bersama kaum Anshar. Tetapi org2 yg ada di sekitar perkemahan itu tidak mengizinkan Suraqah utk mendekat, bahkan memukulnya. Namun tidak dihiraukannya… sehingga dia berdepan dgn Rasulullah yg sdg diatas unta…lalu dia menunjukkan tulang tersebut.
~”Wahai Rasulullah, saya Suraqah bin Malik. Dan ini tulang bertuliskan perjanjian engkau kepadaku dahulu.”
~”Mendekatlah ke sini wahai Suraqah, mendekatlah! Hari ini adalah hari menepati janji!” sahut Rasulullah.
~Suraqah mengikrarkan keislamannya. 9 bln kemudian Rasulullah saw wafat Suraqah sgt bersedih… Bayangan masa lalunya muncul, ketika ia hendak membunuh Rasulullah yg mulia, hanya karena mengharapkan seratus ekor unta. Padahal sekarang andaikata seluruh unta di muka bumi dikumpulkan untuknya, tiadalah berharga dibanding seujung kuku Nabi. Tanpa disadarinya, dia mengulang ucapan Rasulullah kepadanya, “Bagaimana, hai Suraqah, jika engkau memakai gelang kebesaran Kisra?”
~Sepeninggal Rasulullah, ummat Islam dipimpin oleh Abu Bakar. Tapi, hingga Abu Bakar wafat Suraqah belum mendapatkan janji Rasulullah itu. Karena memang Persia belum ditaklukkan. Namun Suraqah tidak pernah ragu, suatu waktu janji itu pasti terbukti. Barulah pada akhir masa khalifah Umar bin Khatab, tentara kaum Muslimin berhasil menaklukkan kerajaan Persia.
~Beberapa utusan panglima Sa’ad bin Abi Waqqash yang telah menaklukkan Persia itu tiba di Madinah. Di samping melaporkan kemenangan-kemenangan yang dicapai tentara Muslim, mereka juga menyetorkan seperlima harta rampasan perang yang diperoleh selama mereka berjuang menegakkan kalimatullah.
~Khalifah Umar tertegun memandangi tumpukan rampasan perang itu. Ada mahkota raja-raja, pakaian kebesaran kerajaan bersulam, dan benda-benda lain yang sangat indah. Khalifah membalik-balik tumpukan itu dengan tongkatnya. Kemudian berpaling kepada orang-orang yang hadir di sekitarnya seraya berkata, “Alangkah jujurnya orang-orang yang menyetorkan semua ini.”
~Ali bin Abi Thalib yang turut hadir ketika itu menyahut, “Wahai Amirul Mukminin, lantaran engkau jujur maka rakyat pun jujur pula. Tetapi bila engkau curang, maka rakyat akan curang pula.”
~Khalifah Umar mengambil dua gelang kebesaran Kisra dan menyerahkannya kepada Suraqah bin Malik. Saat itulah Suraqah teringat kembali janji Rasulullah kepadanya. Setelah menanti sekian lama, janji itu terbukti sudah. Rasa haru dan bahagia bergetar di hatinya. Sungguh besar hidayah Allah yang telah membuatnya percaya pada kerasulan Muhammad saw. Ia juga tidak akan pernah melupakan kasih sayang Rasulullah, yang telah memaafkannya padahal ia hendak membunuhnya. Ya, kasih sayang itu terus dikenangnya, bahkan dirindukannya hingga akhir hayatnya.